(Lebanon, 7 April 2016). Sejarah UNIFIL akan mencatat, bahwa pada tanggal 4 April 2016 sejumlah kapal perang dari berbagai negara participant MTF UNIFIL berkumpul di Beirut Port untuk melaksanakan even yang langka terjadi di sela-sela kapal harus melaksanakan On Task di Area of Maritime Operations (AMO). Kapal-kapal perang tersebut biasanya secara bergiliran melaksanakan pengamanan di Area of Maritime Operations (AMO) dan Territorial Water (TTW) Lebanon, dalam melaksanakan tugas pokoknya sebagai unit MTF UNIFIL sesuai United Nations Security Council Resolution 1701 diantaranya : mengawasi genjatan senjata, membantu dan mendukung LAF (Lebanese Armed Force) untuk meningkatkan kekuatan di daerah selatan dan menjaga interfensi kekuatan militer Israel di Lebanon, mengkoordinasikan segala aktivitas dengan pemerintahan Lebanon dan Israel, memberikan bantuan dan memastikan akses dengan prinsip perikemanusiaan kepada populasi sipil serta sukarelawan dan personel yang tidak pada tempatnya kembali aman, membantu LAF mengambil langkah stabilisasi antara blue line dan sungai Litani bebas dari personel militer beserta alat tempur dan persenjataan diluar dari pemerintahan Lebanon dan UNIFIL, membantu pemerintah Lebanon mengamankan perbatasan dan pintu masuk untuk mencegah masuknya persenjataan illegal. Sejumlah tugas tersebut dijabarkan kembali ke dalam Tugas Pokok Maritime Task Force (MTF) yaitu melaksanakan patroli di perairan Territorial Lebanon guna mencegah penyelundupan senjata illegal masuk ke wilayah Negara Lebanon, serta meningkatkan profesionalisme personil Lebanese Armed Forces-Navy (LAF-Navy) melalui berbagai pelatihan. Pada hari tersebut, sejumlah kapal perang dari Brasil (BRS Independencia), Indonesia (KRI Bung Tomo), Jerman (FGS Erfurt), Turki (TCG Gurbet), Yunani (HS Roussen) dan Bangladesh (BNS Ali Haider dan BNS Nirmul) hadir guna melaksanakan Commanding Officers Conference dengan pimpinan MTF Commander. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengevaluasi operasi, penyampaian MTF Commander Guidance, penyelarasan strategi operasi bersama yang diikuti oleh seluruh Komandan Kapal dan Kepala Departemen Operasi.
Pada kesempatan tersebut, MTF Commander Rear Admiral Claudio Henrique Mello De Almeida, menyampaikan Commander Guidance antara lain ; guna mencapai keberhasilan misi agar terjalin komunikasi yang baik dan melaporkan segala hal yang terjadi dengan segera, mengutamakan prinsip-prinsip keselamatan, kesiapsigaan seluruh unsur MTF, pelaksanaan patroli pengawasan di daerah AMO guna melaksanakan MIO (Maritime Interdiction Operation), pelatihan bagi personel LAF-Navy dan latihan sesama unsur MTF, menjaga disiplin dan perilaku seluruh personel yang tergabung dalam Satgas MTF, penggunaan Brazilian House bagi seluruh personel MTF, peringatan 10 tahun MTF pada Oktober 2016 serta Komandan unsur MTF agar bertanggung jawab pada setiap pelaksanaan tugas.
Dansatgas Maritim TNI Kontingen Garuda XXVIII-H/UNIFIL TA. 2015 Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan, S.T. pada kesempatan tersebut menyampaikan isu-isu strategis guna peningkatan sinergitas operasi bersama antara lain : evaluasi pencapaian operasi yang diraih oleh KRI Bung Tomo 357 sampai saat ini pelaksanaan Hailing masih pada peringkat tertinggi diantara seluruh kapal perang yang tergabung dalam MTF (730 hailing dalam 6 bulan pelaksanaan operasi di Lebanon), diperlukan upaya peningkatan metode pelatihan bagi LAF Navy untuk mencapai kemandiriannya mengamankan Teritorial Water Lebanon, kapal perang merupakan High Value Aset Strategis yang harus dipertanggung jawabkan oleh setiap komandan kapal kepada negaranya oleh karena itu diperlukan kesamaan tindak dalam berbagai aksi dilapangan untuk mengutamakan keselamatan personel dan material yang menjadi tanggung jawabnya.
Momentum tersebut sangat strategis karena diantara Angkatan Laut yang tergabung dalam MTF merupakan Angkatan Laut yang modern yang sangat diperhitunghkan pada tataran global. Diterimanya rekomendasi serta gagasan-gagasan dari Satgas Maritim TNI Kontingen Garuda XXVIII-H/UNIFIL untuk diimplementasikan dalam operasi sebagai bukti salah satu keberhasilan Naval Diplomatic Mission oleh TNI AL dalam mendukung program Nawa Cita yang dicanangkan oleh Pemerintah RI guna menjadikan Indonesia sebagai poros Maritim Dunia harus didukung oleh kekuatan Maritim Indonesia yang kuat dan TNI Angkatan Laut yang disegani. Oleh karena itu, dalam setiap event interaksi dalam konteks multilateral harus menunjukkan kualitas personel yang memiliki profesional yang tinggi yang setara dan diperhitungkan oleh negara lain, performa kapal perang dengan segala atribut kesenjataannya yang terpelihara dan terawat dengan baik. Hal tersebut akan berdampak pada kewibawan negara, demikian disampaiakan Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan, S.T. seusai mengikuti kegiatan Commanding Officers Conference di kapal perang Brasil. Selesai kegiatan tersebut seluruh kapal perang yang tergabung dalam CTG 448 MTF langsung melaksanakan manouver lapangan dan KRI Bung Tomo 357 melakukan latihan dengan kapal perang dari Jerman FGS Erfurt di perairan Mediteranian. (Puspen TNI/Pen SatgasMaritim TNI Konga XXXVIII-H/Unifil)
0 komentar: